Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Desember 2014

ORANG KECIL ORANG BESAR


Suatu hari yang cerah
Di dalam rumah yang gerah
Seorang anak yang lugu
Sedang diwejang ayah-ibunya yang lugu

Ayahnya berkata:
“Anakku,
Kau sudah pernah menjadi anak kecil
Janganlah kau nanti menjadi orang kecil!”

“Orang kecil kecil peranannya
Kecil perolehannya,” tambah si ibu

“Ya,” lanjut ayahnya
“Orang kecil sangat kecil bagiannya
Anak kecil masih mendingan
Rengeknya didengarkan
Suaranya diperhitungkan
Orang kecil tak boleh memperdengarkan rengekan
Suaranya tak suara.”

Sang ibu ikut wanti-wanti:
“Betul, jangan sekali-kali jadi orang kecil
Orang kecil jika jujur ditipu
Jika menipu dijur
Jika bekerja digangguin
Jika mengganggu dikerjain.”

Ayah dan ibu berganti-ganti menasehati:
“Ingat, jangan sampai jadi orang kecil
Orang kecil jika ikhlas diperas
Jika diam ditikam
Jika protes dikentes
Jika usil dibedil.”

“Orang kecil jika hidup dipersoalkan
Jika mati tak dipersoalkan.”

“Lebih baik jadilah orang besar
Bagiannya selalu besar.”

“Orang besar jujur-tak jujur makmur
Benar-tak benar dibenarkan
Lalim-tak lalim dibiarkan.”

“Orang besar boleh bicara semaunya
Orang kecil paling jauh dibicarakan saja.”

“Orang kecil jujur dibilang tolol
Orang besar tolol dibilang jujur
Orang kecil berani dikata kurangajar
Orang besar kurangajar dikata berani.”

“Orang kecil mempertahankan hak
disebut pembikin onar
Orang besar merampas hak
disebut pendekar.”

Si anak terus diam tak berkata-kata
Namun dalam dirinya bertanya-tanya:
“Anak kecil bisa menjadi besar
Tapi mungkinkah orang kecil
Menjadi orang besar?”
Besoknya entah sampai kapan
si anak terus mencoret-coret
dinding kalbunya sendiri:
“O  r  a  n  g    k  e  c  i  l  ?  ?  ?
O  r  a  n  g    b  e  s  a  r  !  !  !”

Terima Kasih Anda Telah Membaca Artikel
Judul: ORANG KECIL ORANG BESAR
Diposkan Oleh Mohammad Najih
Berikanlah saran dan kritik atas artikel ini. Salam blogger, Terima kasih

Ibu

Ibu
Kaulah gua teduh
tempatku bertapa bersamamu
sekian lama
Kaulah kawah
dari mana aku meluncur dengan perkasa
Kaulah bumi
yang tergelar lembut bagiku
melepas lelah dan nestapa
Gunung yang menjaga mimpiku
siang dan malam
Mata air yang tak brenti mengalir
membasahi dahagaku
Telaga tempatku bermain
berenang dan menyelam

Kaulah, ibu, langit dan laut
yang menjaga lurus horisonku
Kaulah, ibu, mentari dan rembulan
yang mengawal perjalananku
mencari jejak sorga
di telapak kakimu

(Tuhan
Aku bersaksi
Ibuku telah melaksanakan amanatMu
menyampaikan kasihsayangMu
maka kasihilah ibuku
seperti Kau mengasihi
kekasih-kekasihMu
Amin).

Terima Kasih Anda Telah Membaca Artikel
Judul: Ibu
Diposkan Oleh Mohammad Najih
Berikanlah saran dan kritik atas artikel ini. Salam blogger, Terima kasih

YA RASULALLAH

YA RASULALLAH
aku ingin seperti santri berbaju putih
yang tiba-tiba datang menghadapmu
duduk menyentuhkan kedua telapak tangannya di atas paha-pahamu muliamu
lalu aku akan bertanya ya rasulallah
tentang islamku
ya rasulallah
tentang imanku
ya rasulallah
tentang ihsanku

ya rasulallah
mulut dan hatiku bersaksi
tiada tuhan selain allah
dan engkau ya rasul utusan allah
tapi kusembah juga diriku astaghfirullah
dan risalahmu hanya kubaca bagai sejarah
ya rasulallah
setiap saat jasadku salat
setiap kali tubuhku bersimpuh
diriku jua yang kuingat
setiap saat kubaca salawat
setiap kali tak lupa kubaca salam
assalamu’alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh
salam kepadamu wahai nabi juga rahmat dan berkat allah
tapi tak pernah kusadari apakah di hadapanku
kau menjawab salamku
bahkan apakah aku menyalamimu
ya rasulallah
ragaku berpuasa
dan jiwaku kulepas bagai kuda
ya rasulallah
sekali-kali kubayar zakat dengan niat
dapat balasan kontan dan berlipat
ya rasulallah
aku pernah naik haji
sambil menaikkan gengsi
ya rasulallah, sudah islamkah aku?

ya rasulallah
aku percaya allah dan sifat-sifatnya
aku percaya malaikat
percaya kitab-kitab sucinya
percaya nabi-nabi utusannya
aku percaya akherat
percaya qadla-kadarnya
seperti yang kucatat
dan kuhafal dari ustad
tapi aku tak tahu
seberapa besar itu mempengaruhi lakuku
ya rasulallah, sudah imankah aku?

ya rasulallah
setiap kudengar panggilan
aku menghadap allah
tapi apakah ia menjumpaiku
sedang wajah dan hatiku tak menentu
ya rasulallah, dapatkah aku berihsan?

ya rasulallah
kuingin menatap meski sekejab
wajahmu yang elok mengerlap
setelah sekian lama mataku hanya menangkap gelap

ya rasulallah
kuingin mereguk senyummu yang segar
setelah dahaga di padang kehidupan hambar
hampir membuatku terkapar

ya rasulallah
meski secercah, teteskan padaku
cahyamu
buat bekalku sekali lagi
menghampirinya

Terima Kasih Anda Telah Membaca Artikel
Judul: YA RASULALLAH
Diposkan Oleh Mohammad Najih
Berikanlah saran dan kritik atas artikel ini. Salam blogger, Terima kasih