Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Desember 2014

Tentang Seorang Tabib

Sebuah gubug renta berdiri di tengah hamparan hutan belantara. Hanya ada tiga orang yang hidup di gubug itu. Mereka adalah Mbah Suhud beserta  muridnya, Genjen dan Komed. Kedua murid tersebut oleh Sang Guru diajari dengan ilmu yang berbeda. Genjen mewarisi ilmu kanuragan dan Komed menguasai ilmu pertabiban yang dimiliki Mbah Suhud.
Suatu hari Genjen pergi meninggalkan gubug itu. Ia ingin pergi melihat dunialuar yang selama ini membuat penasaran dirinya. Sang Guru telah mengingatkan, bahkan telah melarangnya untuk pergi. Betapa dunia luar rapat dengan segala rayuan dan godaan. Sang Guru khawatir jika muridnya itu akan terbuai kemegahan dunia. Pada akhirnya tak ada yang bisa mencegah tekad Genjen. Sang Guru hanya berwasiat, ilmu yang diajarkannya semata untuk mengagungkan kebesaran Tuhan. Maka dengan sangat kecewa Sang Guru melepas kepergian Genjen.
***
  Sebulan setelah kepergian Genjen, gubuk terasa sepi. Mbah Suhud  kini sering berdiam diri. Ia menghabiskan hari demi hari memandangi panorama rimbun yang terhampar di sebelah selatan. Ke arah itulah murid kesayangannya pergi. Menembus ribuan pepohonan yang besar-besar dan sangat rapat. Sang Guru tak bisa membayangkan bagaimana sulitnya menaklukkan rintangan begitu lebat itu. Seperti dirinya dulu yang melarikan mereka ketika masih belia. Saat terjadi pertempuran yang merenggut nyawa  kedua orang tua mereka.
Mbah Suhud duduk di tubir tebing. Udara pagi yang segar menemani tepekurnya. Dari belakang ia mendengar langkah kaki Komed menyapu dedaunan kering yang berserakan di tanah. Ia mendekatkan diri ke  sisi guru.
“Guru, sarapan telah kusiapkan di meja. Mari kita makan.” Begitu Komed datang menyapa. Namun suaranya lekas ditangkap angin dan dibawa entah ke mana.
Sang Guru hanya bergeming. Pandangannya masih tetap sedia kala. Tak menjawab. Komed segera merapatkan tubuhnya ke sisi Sang Guru. Ia pun ikut menyatu dengan panorama yang hijau itu. Dari arah timur, matahari terlihat separuh. Sinarnya mulai merata menimpa dedaunan yang masih basah oleh embun. Menikmati pemandangan itu mereka sampai lupa makan.
***
Komed bimbang. Tiga hari sudah Sang Guru terbaring lemah di atas dipanbambu. Tubuhnya lusuh dan dingin. Air mukanya keruh. Bibirnya tiada henti bergetar. Komed berulang kali meramu obat-obatan dari dedaunan yang diambilnya dari hutan dan meminumkannya kepada Sang Guru. Namun tak jua ada perubahan.
Sang Guru tak lagi bisa apa-apa. Mulutnya sudah tak mampu lagi untuk sekadar mengunyah makanan. Buang air kecil pun di tempat tidur. Namun itu semua tak membuat takzim Komed kepada Sang Guru berkurang. Komed menginsyafi, di usia Sang Guru yang senja itu, butuh seseorang untuk merawatnya. Hanya Komed yang bisa dijarapkan.
Pada hari keempat di pembaringan, Sang Guru menghembuskan nafas terakhir. Ia pergi meninggalkan Komed dan melupakan kenangan pahit saat melepas kepergian Genjen. Kini Komed hidup sebatang kara di gubug reyot.
Jasad Sang Guru pun ia tanam di belakang gubug, sesuai permintaan Sang Guru sendiri.  Kepergian Sang Guru semakin mencipta sepi di gubug itu. Sebelum ajalnya, Sang Guru berwasiat kepada Komed agar menemukan kembali Genjen. Mengajaknya pulang untuk menziarahi makam Sang Guru. Komed pun segera merantau.
Komed berjalan ke selatan menembus hutan. Semak belukar setinggi dadanya dengan sabar dilaluinya. Pohon-pohon besar yang rantingnya merunduk, ia retas dengan hati-hati. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan ia hanya mengisi perutnya dengan buah-buahan sepanjang jalan yang ia lalui. Terkadang ia bersua dengan binatang buas. Namun ia terbiasa membuat binatang macam apapun menjadi jinak. Ya, Sang Guru pernah mengajarinya.
Sampai suatu hari ketika Komed melalui jalan yang menghubungkan suatu desa , ia bersua dengan sekawanan pedagang. Ia menemukan tubuh mereka tergelepar di pinggir jalan. Dua pedati kosong di dekat mereka. Jumlah mereka banyak. Tiga di antaranya tewas dan yang lainnya  tak sadarkan diri. Banyak luka menganga di tubuh mereka.
Jiwa tabibnya segera tergugah. Ia  membuka obat-obatan yang ia bawa selama perjalanan. Komed meneduhkan tubuh para pedagang itu lalu pelan-pelan ia oleskan obat itu pada setiap luka.
Setelah dirawat dengan baik, mereka bisa sehat kembali. Mereka pun mengisahkan kejadian yang telah menimpa mereka. Segerobolan penyamun telah merampas harta dan barang dagangan. Para penyamun itu menyerang dengan senjata tajam. Mereka dipimpin oleh seseorang yang sakti.
Melihat kesembuhan para pedagang itu, lantaslah Komed undur diri. Ia melanjutkan perjalananya ke selatan mencari kakaknya. Sampailah ia di pemukiman penduduk. Berbulan-bulan ia berjalan melewati hutan. Dan ternyata benar apa yang dikatakan mendiang gurunya. Dunia luar begitu ramai. Ia berjumpa orang-orang yang lalu-lalang. Sibuk dengan dunianya sendiri. Gadis-gadis cantik hingga perempuan tua yang kesepian di pinggir pasar jua ia temukan.
Komed terus berjalan memasuki pemukiman. Pakaiannya terlihat compang-camping. Sebab berbulan-bulan ia hanya mengenakan satu pakaian. Namun langkahnya tetap tegap dan wajahnya bersih.
Sepanjang perjalanan ia selalu menanyakan perihal kakaknya. Ia menjelaskan ciri-ciri kakaknya kepada setiap orang yang di temuinya. Begitu terus sampai ia berhenti di sebuah warung di pinggir jalan dekat alun-alun.
Komed duduk di lincak di pojok warung itu. Ia menyendiri. Orang-orang memenuhi tempat duduk di warung itu. Beberapa orang menenggak arak dan mereka dikelilingi perempuan-perempuan cantik. Suasana riuh. Mulut-mulut menceracau sekenanya.
Tabib muda hanya menunduk. Tiba-tiba semua orang terdiam. Komed yang duduk membelakangi mereka heran. Beberapa orang menghambur keluar. Mereka lari terbirit-birit seperti ayam kedatangan bajing. Ada yang terjatuh karena kakinya tersandung meja saking gugupnya. Ada pula yang masih duduk di tempat karena mabuk berat.
Komed segera menolehkan wajahnya. Di halaman depan warung segerombolan orang hendak masuk. Komed terkesiap ketika menampak mereka lengkap dengan senjata tajam. Tubuh mereka yang jangkung membuat Komed agak merinding. Mereka mengobrak-abrik seisi warung. Orang-orang yang ada di warung diam saja. Mematung.
Ya, merekalah para penyamun yang selama ini membuat penduduk Desa Bandaran ketakutan. Dengan beringas mereka merampas harta milik penduduk. Orang-orang yang sejak tadi mabuk, mencoba melawan. Namun sayang, mereka kalah digdaya dengan para penyamun itu. Mereka pun terkelepar di lantai. Beberapa tusukan senjata tajam menohok perut mereka. Siang itu warung bersimbah darah.
Tubuh Komed menggigil. Ia menyembunyikan wajahnya dari para penyamun itu. Para penyamun itu segera mendekatinya. Hatinya semakin berkecamuk. Ia bingung. Ia tak punya bekal untuk membela diri selain mengobati luka atau penyakit. Perlahan bulir-bulir keringat dingin  mulai bercucuran di dahi. Tubuhnya kuyup oleh peluh. Ia semakin bergidik ketika melirik tangan salah satu penyamun mengacungkan celurit. Sejurus saja mata celurit iru bakal merobek punggung Komed. Ia segera beranjak dan berguling ke depan. Secepatnya ia ke luar warung. Segera para penyamun menyusul.
Di luar orang-orang ketakutan. Para penyamun itu mengerubungi Komed. Tubuh Komed menggasing. Masing-masing orang yang melihatnya bersitegang.
“Hey anak muda, serahkan barang-barangmu atau kau kubunuh!”, salah seorang penyamun mengancam.
Komed memegang erat-erat barang bawaannya. Ia tak rela obat-obatan yang ia bawa dirampas mereka. Ia berhadapan pada dua pilihan yang membuatnya tak berdaya. Sebisa mungkin ia mencari jalan keluar. Ah, sayang ia hanya seorang tabib. Andaikan Sang Gurunya dulu mengajarinya ilmu kanuragan  pasti ia tak menemu jalan sesulit ini.
Sementara orang-orang yang menyaksikan bertambah takut. Para penyamun itu tengah siap menyabitkan celurit.
“Tidak! Bagaimanapun aku tak akan menyerahkan milikku kepada kalian.” Berontak Komed. Ia benar-benar dalam kebingungan.
“Bedebah!” Hardik penyamun itu.
Tinggal sejurus lagi celurit itu bakal merobek tubuh Komed. Ia memejamkan matanya. Mencoba berpikir. Komed membuka kedua matanya. Lantaslah Komed menghardik  mereka bak lolongan harimau di tengah rimba. Dan mereka pun seketika terpelanting dan lemas tiada daya. Mereka tak bisa apa-apa. Orang-orang takjub menyaksikan kejadian itu.
Ya, tanpa disadari Komed melumpuhkan penyamun itu.  Ia punya ilmu warisan gurunya untuk menjinakkan binatang buas. Pikir Komed, dalam diri para penyamun itu ada sifat binatang buas.
***
Penduduk Desa Bandaran merasa lega. Baru kali ini mereka menemukan sosok yang gagah berani melawan para penyamun yang selama ini membuat mereka resah. Sosok itu masih muda sekali. Namun mereka takzim kepadanya. Bahwa Desa Bandaran telah menemukan seorang  pahlawan.
Dalam waktu yang tak lama nama Sang Tabib disebut-sebut banyak orang. Kemampuannya mengobati penyakit pun cepat terendus. Orang-orang dari segala umur berbondong-bondong mendatanginya.
Kawanan penyamun mendengar kabar itu. Mereka tidak terima atas kekalahannya. Tetua  penyamun marah besar. Ia malu jika anak buahnya dibikin takluk. Maka ia segera menyusun balasan. Akhirnya mereka meluncur ke Desa Bandaran mencari tabib muda itu.
Tetua penyamun itu terlihat sangar. Langkahnya tegap membuat orang-orang takut. Orang-orang yang melihat kedatangannnya di Desa Bandaran bersitegang. Mereka cepat-cepat masuk rumah. Beberapa menyambangi kediaman Sang Tabib.
“Di mana tabib sontoloyo itu? Hah!,” pekik  tetua penyamun. Suaranya parau. Orang-orang bergidik mendengarnya. Penduduk hanya menatapnya bisu. Mereka tak berani berucap sekata pun.
Komed segera keluar dari kediaman. Ia tahu para penyamun itu mencari dirinya. Ia tak ingin ada korban atas kebuasan mereka. Maka ia bergegas.
Ia benar-benar ingin bertempur hari itu. Namun tabib muda tiba-tiba kehilangan hasrat. Ia melihat sosok yang tak asing dalam hidupnya. Sosok itu adalah orang yang sangat dicarinya selama ini.
Komed mendekati tetua penyamun itu. Orang-orang melihat dengan khawatir. Namun tak terbesit sedikit pun rasa takut dalam hati tabib.

Agustus-Desember 2011

Terima Kasih Anda Telah Membaca Artikel
Judul: Tentang Seorang Tabib
Diposkan Oleh Mohammad Najih
Berikanlah saran dan kritik atas artikel ini. Salam blogger, Terima kasih

Pulang


Pulang menjadi hal yang  musti dilakukan. Usai kepergian cukup lama yang melahirkan kerinduan. Begitulah semestinya pulang menjadi muara rindu.

Bagiku kepergian adalah pulang. Sekian lama yang kujalani hanyalah pulang. Pamitku kepada istri bukanlah soal mengurus kerja di kota. Mencari nafkah untuk keluarga. Dan pulang membawa banyak uang.
Bukan. Aku hanya pulang ke rumah istri keduaku. Setelah itu  pamit lagi. Lalu pulang ke rumah istri pertama. Begitulah kehidupanku.
Sri istri pertamaku. Sejak pulang dari kampus dengan embel-embel sarjana, aku dijodohkan dengannya. Keluarganya tak menolak. Mungkin karena pendidikanku tinggi sehingga mereka enggan menolak lamaran yang mendadak dari orang tuaku.
Bahkan aku sendiri belum begitu mengenal Sri waktu itu. Ya, hanya nurut orangtua. Orang-orang mengenal Sri gadis yang baik. Kami pun menikah. Pacaran. Darinya aku dikaruniai seorang anak laki-laki, Marzuki.
Sri memang tiada duanya bagiku. Ia selalu menciptakan suasana kedamaian di rumah. Setiap pagi, misalnya, secangkir kopi panas selalu menjemputku di atas meja. Akupun beranjak dari tempat tidur. Menyeruput kehangatannya. Manis. Seperti penyeduhnya. Ah, membuatku serasa masih bermimpi. “Sri… Sri… Pagi-pagi sudah bikin kopi.” Begitu sapaku suatu hari. Ia hanya menyunggingkan bibirnya.
Ketika karierku di sebuah perusahaan rokok ternama kian melejit, akupun sering keluar kota. Mengurus pekerjaan. Meninggalkan keluarga. Pulang seminggu sekali. Kadang sebulan sekali. Dan sampai detik ini, hampir tujuh bulanan aku belum pulang. Tetapi aku tak pernah lupa soal nafkah keluarga. Setiap bulan. Uang untuk belanja Sri sehari-hari dan uang jajan Marzuki. Tak pernah telat. Mereka tak pernah menuntut banyak.
Hidupku di kota begitu mapan. Tapi aku tak seperti beberapa kolega yang suka memamerkan kehidupan poligaminya. Mereka menganggap nyaliku kecil.
Di kota itulah aku ketemu Lastri. Dulu ia sekampus dengankuKebetulan ia sedang  mencari kerja, dan tak sengaja berjabat tangan dengannya di kantorku. Karena aku mengenalnya, ia kuterima begitu saja.
Lastri. Rambutnya hitam dan panjang. Tubuhnya berlekuk bak biola. Hidungnya lebih mancung ketimbang Sri. Ketika kupikir-pikir sekarang, rasanya tidak salah jika dulu ia jadi idola kampus. Mungkinkah aku tertarik pada Lastri?
Ah! Aku sempat berpikir aku hanya sedang teringat masa lalu. Ya, dulu ketika masih kuliah aku pernah menyukainya. Tapi apa daya, ia seorang idola. Banyak pesaing. Aku jadi minder. Sehingga itu hanya menjadi simpanan perasaanku yang entah hilang begitu saja.
Kini aku setengah bertanya-tanya pada diri sendiri, bagaimana jika peluang itu terbuka. Kukira para kolegaku yang doyan istri itu akan menyalakan lampu hijau buatku.
Begitulah memang kejadiannya. Lastri tak menolakku. Sejak itu aku pulang ke rumahnya.
***
Menjadi manajer personalia di perusahaan rokok ternama ternyata tak membuatku puas. Dengan modal yang kumiliki, sebuah perusahaan rokok kecil jatuh ketanganku. Beberapa karyawanku pun kualihkan ke perusahaan baru. Aku pun tak ingin berlama-lama bertahan di perusahaan orang.
“Mas yakin ingin keluar dari perusahaan?”
“Iya, Las. Aku yakin perusahaanku sendiri akan maju.”
“Semoga begitu, Mas.”
Malam ini hujan sangat lebat. Derasnya beradu dengan atap. Mencipta gemuruh.
“Las, kau cantik sekali malam ini.”
“Ah, gombal! Oh ya, Mas, jangan lupa besok kita ke butik.”
“Buat apa, Las? Lemari pakaian kita sudah hampir sesak.”
Pret ah! Kalo gitu malam ini aku ndak mau tidur di kamar!”
Weleh-weleh… ngambek deh istriku. Okelah, aku janji besok kita ke sana.”
Hujan di luar semakin deras. Angin ribut mendesir. Kali ini gemuruhnya berubah menyoraki kemenangan Lastri. Suara petir menggelegar. Membuat kaca jendela ikut bergetar. Resonansinya menyentuh telpon genggamku. Di atas meja telpon genggamku bergetar-getar. Sengaja kubuat silent. Kulirik sebentar nama Sri memanggil-manggil. Aku ingin meraihnya. Tetapi  Lastri langsung menubruk tubuhku. Aku terjerembab dan jatuh di kasur. Empuk.
Di langit-langit kamar, aku melihat dua ekor cicak sedang kejar-kejaran. Si jantan merayu betinanya. Lalu, Lastri mematikan lampu.
***
Siang itu aku ada janji dengan seorang investor. Kami akan bertemu di sebuah HOTEL. Kami pernah berkolega di tempat kerjaku dulu. Kujelaskan kepadanya prospek perusahaanku. Dia tertarik.  Dan seminggu lagi kami bakal menandatangani kontrak.
Usai rapat, aku segera meluncur ke kantor. Udara di jalanan yang kian sesak bermacam-macam kendaraan begitu menyengat. Penat.
Tiba-tiba ada yang menggelitik di kantong celana. Telpon genggamku bergetar.
Pak, kapan pulang? Marzuki sudah bertanya-tanya. Segeralah pulang, Pak! Minggu depan Marzuki ikut lomba. Bapak ndak kepingin melihatnya?
Sms dari Sri. Aku tak membalas.
Maafkanlah suamimu ini Sri, batinku. Aku belum bisa pulang. Kali ini pekerjaan memang menumpuk. Apalagi minggu ini aku harus menyelesaikan kontrak.
Aku masih menyetir mobil. Beberapa menit kemudian telpon genggamku bergetar lagi. Langsung kubaca. “Mas, nanti sore kita ke mal, ya. Belikan aku kalung yang bagus.”
Ah, Lastri! Hobinya buang-buang duit saja. Tak pernah berpikir hemat. Jatah belanja sebulan sudah dihabiskan dalam dua hari. Hah!
Di perempatan tiba-tiba lampu merah. Segera mobil kuhentikan. Rem kuinjak dengan keras. Ban mobilku beradu dengan aspal dan berderit kencang. Hampir saja aku menabrak pantat mobil di depan. Pengemudi lainnya menyalakan klaksonnya. Suaranya mendesing dan membuatku panik.
Lampu hijau. Mobil kulajukan di bibir jalan.  Dari arah yang berlawanan sebuah mobil sedan merah melaju kencang. Berpapasan. Aku terkesiap ketika melihat sekilas dua orang yang berada di jok belakang mobil itu. Seorang lelaki dan perempuan. Wajah yang tak asing lagi. Lastri. Tapi benarkah?

***
Pagi terasa suram di mataku. Mentari tak seceria biasanya. Jalanan di depan rumahku sepi. Mungkin orang-orang sedang malas jogging atau lari pagi. Tak seperti Minggu biasanya yang selalu ramai. Bahkan tukang sayur yang biasa mangkal di depan pos satpam pun absen.
Aku melangkah ke halaman rumah. Mencoba menikmati pagi sendiri. Kulihat simbok sibuk di dapur. Sedang Lastri masih mendengkur. Entah dari mana ia semalam. Kulihat beberapa bingkisan di atas meja. Kalung, baju baru, dan belanjaan lainnya. Aih… ternyata Lastri jadi ke mal. Haha… Pasti sendirian!
Biarlah. Salahku juga membiarkannya bekerja di perusahaan yang dulu. Tak apa. Itung-itung biar ia tidak menganggur  di rumah.
Pikiranku kembali pada simbok. Tiba-tiba aku menyadari kembali kehidupan di kota yang jauh berbeda dengan kehidupanku di kampung dulu. Kepingin kopi saja harus memanggil simbok. Di kampung, pagi-pagi kopi sudah siap di meja. Begitulah akhirnya aku teringat Sri. Sebab hanya Sri yang menyeduhkan kopi untukku setiap hari. Sri bagaimana keadaanmu? Aku ingin pulang ke pelukanmu. Hatiku meraung.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Mengeluarkannya perlahan. Segar. Menutup mata sebentar. Lalu kubuka lagi. Seorang loper koran datang. Ia melemparkan lembaran koran hari ini ke arah pintu gerbang. Segera aku meraihnya.
“Pemerintah Naikkan Harga Cukai Rokok.” Begitu membaca headline koran hari ini, aliran darah di dadaku serasa berhenti. Seketika wajahku memucat. Buram. Seperti pagi ini.
Aku mencoba menghibur diriku sendiri. Menjanjikan mimpi-mimpi untuk diriku sediri. Bahwa aku pasti bisa menghadapi ini semua. Dan memang aku masih memiliki harapan. Ya, aku akan segera menghubungi investor itu untuk memastikan kontrak.
Jika harga cukai rokok naik, perusahaanku terancam bangkrut. Bagaimana tidak, produksi rokok di pabrikku tak seberapa. Perusahaan yang tergolong kecil. Jika ditambah harga cukai yang tinggi, ongkos produksi bisa membengkak. Dari mana aku menggaji karyawanku? Aku belum punya modal yang cukup.
Aku  mematung di halaman. Telpon genggamku berbunyi. Sri. Aku tergagap.
“Pak, kapan pulang?”
“Ya Bu, Rabu bapak pasti pulang.”  Aku mencoba tetap riang.
“Janji ya, kau tak ingin melihat anakmu mengikuti lomba? Dia jago menggambar lho.”
Tiba-tiba ada yang mengalir dari mataku. Alirannya menerus menelusuri pipiku. Mengelok dan jatuh menjadi bulir-bulir. Menetes. Membasahi kerah baju. Serasa ada yang runtuh. Luluh.
***
Pagi ini adalah pertemuanku dengan investor itu. Sesuai janji seminggu yang lalu. Kami akan rapat singkat di sebuah HOTEL. Aku pun segera beranjak. Tapi kulihat di rumah hanya aku seorang. Sepi. Lastri belum pulang. Entahlah, sibuk apa dia sekarang. Aku tak sempat memikirkannya. Persoalan perusahaan menyita banyak pikiran dan waktuku.
Aku segera ke HOTEL bersama seorang stafku, Doni. Ia yang menyetir mobil. Aku duduk di sebelahnya. Sampai di hotel. Kami berjalan pelan melewati lobi dengan membawa sejuta harapan. Sebab kerjasama ini bakal menghidupi perusahaanku. Kami melangkah dan masuk ke dalam lift. Dalam beberapa detik pintu lift terbuka. Lantai enam.
Aku menunggu di ballroom sekitar lima belas menitan. Aku hanya menatapi vas bunga di atas meja. Sesekali kutengok jam tangan. Saat aku mendongakkan wajah, mataku menampak investor yang kutunggu-tunggu. Aku terkesiap, lelaki itu datang dengan menggandeng seorang perempuan yang pasti kukenal.
Lastri tergagap menatap wajahku. Pipinya memerah. Panik. Lalu menyembunyikan wajahnya di balik punggung lelaki itu. Ada terik di dadaku. Panas. Aku tak bisa membayangkan apa yang ia lakukan bersama lelaki itu.
“Lastri, semalam kau tak pulang! Rupanya kau di sini!” Dadaku berubah perih. Aku tak kuat menahan. Tanpa mengucapkan sepatah kata, aku segera melenggang. Meninggalkan investor itu bersama Lastri. Doni memapahku dan mencoba menghibur. Investor itu nampak bingung.
Lastri hanya diam melihatku pergi. Menundukkan kepalanya. Lalu balik kanan bersama lelaki itu. Rasanya aku masih tak percaya Lastri berbuat di luar perkiraanku. Tapi mungkin inilah jawaban yang harus kuterima dari kebiasaan Lastri sering pulang larut malam. Bahkan terkadang tak pulang.  Barangkali benar, perempuan yang kulihat bersama seorang lelaki di perempatan jalan itu Lastri.
***
Aku ingin pulang kepada Sri. Sekian lama aku menelantarkannya. Meninggalkannya di kampung. Sedang aku sendiri hidup glamour di kota. Dan mulai detik ini aku akan pulang ke pelukan Sri. Selamanya.
Entah, mengenal Lastri adalah sebuah kecelakaan atau pelajaran. Jangan-jangan perlakuan Lastri kepadaku benar. Semacam tamparan untukku karena telah menduakan Sri. Tapi yang pasti aku tak ingin melukai Sri dengan kisah tentang Lastri. Biarlah itu menjadi rahasia yang kusimpan rapi di balik kepulangan ini.
“Bapak pulang?”
Sri menyambutku dengan riang. Segera ia menyambutku dengan dekapan. Tangisan kecil pecah di antara kami. Kulihat foto Marzuki terpajang di dinding. Bersama Sri, tangannya memeluk erat sebuah trofi. Sepertinya gambar mereka berdua tersenyum menyapa kehadiranku.
Sekian lama kami hanya mematung di depan pintu. Berdekapan. Sri menyembunyikan wajahnya di dadaku. Hening.
Tiba-tiba telpon genggamku mengusik kekhusyukan. Telpon dari simbok. “Pak, gawat pak, gawat! Bapak kapan pulang? Nyoya pulang bawa lelaki!

Semarang, Desember 2011

Terima Kasih Anda Telah Membaca Artikel
Judul: Pulang
Diposkan Oleh Mohammad Najih
Berikanlah saran dan kritik atas artikel ini. Salam blogger, Terima kasih

Kuda Emas

Kuda Emas ilustrasi


CIASAHAN, hanya di Ciasahan orang tua dan anak-anak mudah sekali memercayai kisah, baik sejarah ataupun bualan seorang Kakek kepada cucu-cucunya. Kisah bagaikan sesuatu yang turun dari langit, semisal kitab,yang sakral dalam dada setiap masyarakat. Tetapi, kisah ini, bagi anak kecil, adalah kisah paling fenomenal di antara yang lainnya.

Ini menyangkut banyak hal terutama misteri dan materi. Bagaimanapun kampungannya kampungku tetap saja materi selalu dijadikan prioritas, mengapa anak-anak mau menurut pada orang tuanya untuk bersekolah. Padahal jika dipikirkan, terlalu banyak waktu kami yang terbuang hanya untuk diam di kelas, mendengarkan guru berceramah misalnya. Ada banyak hal di kampungku yang sebetulnya sayang sekali dilewatkan, daripada belajar di sekolah tentunya. Sayangnya, anak-anak di kampungku tidak ada yang berani menolak apalagi melanggar perintah orang tua. 

Di belakang rumahku menjulang gunung Tanjoleat. Cukup tinggi. Teman-teman seusiaku, dahulu selalu berangan-angan agar dapat pergi ke puncak untuk dapat menyentuh langit. Yang lainnya berharap bisa bertemu bintang film Bollywood, Amir Kahn atau Amitha Bachan, di balik gunung itu. Mereka kira ada sebuah daratan bernama India di sana. Penuh wanita cantik dengan sindur di antara kedua alis matanya. Aku baru tahu setelah dewasa, kalau India itu tidak pernah ada di balik gunung Tanjoleat. India berada di Asia bagian Barat dekat dengan Pakistan dan Bangladesh.

Tanjoleat, adalah gunung yang dipenuhi bebatuan. Sumber sejarah yang tak pernah terungkap, tentang banyak hal. Persembunyian tentara lokal ketika melawan penjajah, kuburan putri, batu yang mirip perahunya Nuh, sepasang telapak kaki, batu pistol, dan batu ular. Sudah banyak peneliti yang mencoba peruntungannya untuk mengungkap sejarah apa saja yang terpendam di sana. Tapi seringkali tak berhasil. Kecurigaanku selalu timbul ketika para peneliti datang ke kampungku dengan alasan hendak melakukan riset. Aku selalu tidak percaya. Pasti ada sesuatu yang berharga sedang mereka incar, entah apa.

Beribu monyet hidup di sana. Babi hutan, kelelawar, dan harimau kumbang yang mendiami goa-goa di sela-sela tumpukan batu. Konon, kuda emas juga hidup di gunung itu dan setiap Kamis malam, tepat pukul 12.00, kuda itu selalu terbang menuju Tenggara, membentangkan sayap, mengibas-ibaskan ekornya. Kilau keemasan memancar ke mana-mana. Kalau kau seorang penyuka bintang dan seringkali takjub ketika melihat bintang jatuh atau himpunan kunang-kunang terbang ke arahmu, kata kakek, kuda emas lebih indah dari itu. Terdengar seperti dongeng memang. Tetapi, ini terjadi di kampung kami, Ciasahan. Kakek sendiri yang menceritakannya padaku. Suatu sore, ketika hujan deras dan angin pegunungan terasa menusuk.

Jarang sekali ada orang yang melihat langsung kejadian itu. Aku tahu itu lewat cerita-cerita dari teman dan dari Kakekku sendiri. Katanya, hanya orang-orang yang beriman dan memiliki hati cemerlanglah yang dapat melihat kuda itu. Aku pikir hatiku masih cemerlang, sholat, dan hapalan ngajiku tidak ada masalah. Tapi sampai sekarangpun aku belum juga melihat kuda itu terbang di atas rumah. Ini sungguh aneh.

Anak-anak di kampungku, seringkali memimpikan untuk, setidaknya pernah sekali saja melihat kuda itu terbang di atas rumah-rumah dan berharap ia mengeluarkan sesuatu dari pantatnya. Tentu saja orang yang tidak tahu mengenai hal ini menganggap harapan itu adalah harapan paling bodoh. Tapi tidak bagi kami. Setiap seusai sholat, kami selalu berdoa meminta hal itu terjadi.

Aku jadi teringat kisah dahulu. Kau mungkin tidak akan percaya, ketika zaman sekolah dasar dulu, kelas mata pelajaran Bahasa Indonesia tepatnya, saat ibu guru bertanya perihal cita-cita dewasa nanti, teman-teman sekelas mengatakan, ”menjadi penggembala kuda emas”. Dan kau tahu, semua murid mengatakan kalimat yang sama. Ibu guru geram mendengarnya.

”Kalian tidak mengerti apa artinya cita-cita!”

Kami hanya menunduk takut. Baginya cita-cita kami tak memiliki arti. Cita-cita kami hanyalah khayalan anak-anak yang terbuai oleh dongeng-dongeng murahan. Ibu guru tidak mengerti tentang apa yang menjadi keinginan kami. Bagi anak seusia kami itu adalah hal yang luar biasa. Tapi sayangnya hingga kini tak ada satupun yang berhasil mengejar itu.

Memiliki kuda emas merupakan hal paling menyenangkan. Bayangkan saja, kau tidak perlu bangun pagi untuk bekerja. Lembur sampai pagi untuk menghasilkan uang tambahan. Tidak perlu melakukan hal-hal konyol semacam menunggu uang bulanan atau meminjam uang ke tetangga untuk risiko sehari-hari. Kau hanya tinggal beribadah, berdoa, dan menunggu kotoran yang keluar dari pantat kuda. Kotoran itu dalam sekejap mata akan menjadi emas murni 14 karat, berbentuk oval. Harga emas itu cukup untuk melakukan perjalanan mengelilingi dunia setiap Minggunya. Mentraktir seluruh warga kampung selama sebulan penuh. Coba bayangkan, itu luar biasa bukan?

Cita-cita kami sempat sirna ketika beberapa teman bercerita, ”kuda emas itu tidak makan rumput, tapi makan perempuan.” Teman yang satunya bilang, ”kuda itu bukan makan perempuan, tapi makan anak kecil yang pipis di luar rumah”.

Yang lainnya bilang ”makan batu”.

”Pohon mahoni.”

”Ikan mas!”

”Karang.”

”Durian.”

”Kalian tahu dari siapa?

Semuanya menjawab, ”Kakek!”

”Memang Kakekmu tahu dari mana?”.

Mereka menjawab, ”dari Kakeknya Kakek”.

Aku yang masih bodoh, kadangkala langsung percaya terhadap apa yang teman-teman katakan.
Suatu malam ketika aku terbangun karena merasa kebelet, dan itu sudah tidak dapat ditahan lagi. Aku turun dari ranjang dan segera keluar rumah. Di langit kulihat ada serbuk-serbuk berkilauan dan aku yakin itu bukan kunang-kunang. Suara rengeh terdengar dari jauh. Aku teringat perkataan teman bahwa kuda emas adalah pemakan anak kecil. Aku langsung lari ke dalam rumah dan langsung mengunci pintu. Malam itu terasa mencekam sebelum akhirnya aku memilih pipis di celana. Belum ada kamar mandi di rumahku waktu itu. Untuk pipis saja, aku mesti keluar ke pancuran belakang rumah.

Ibuku memarahiku karena pipis di celana. Kakek datang padaku dan menanyakan alasan mengapa aku ngompol. Aku bersikeras mengatakan kalau aku tidak ngompol. Aku hanya pipis. Tepatnya memilih pipis.
Aku mengatakan hal yang sebenarnya pada Kakek tentang serbuk emas dan suara rengehan kuda dari Timur sana. Ibu diam. Senyum semringah muncul dari wajah Kakek.

”Akhirnya kuda itu memilih kamu, nak.”

”Maksudnya?”

”Ya, ia akan sering terbang di atas rumah kita untuk menjaga kita?”

”Aku tidak mengerti, kek.”

”Nanti kau akan mengerti.”

Konon kuda itu terbang menuju tempat-tempat yang tak pernah diketahui.
”Kuda emas itu menuju Gunung Pongkor untuk menemui kekasihnya,” kata Kakek. Percintaan antar kedua kuda itu seringkali ditandai dengan purnama yang sempurna. Lalu cahaya yang dipancarkan bulan akan memantul dan mengubah warna putih menjadi kilau keemasan.

”Itu yang membuat Gunung Pongkor kaya akan emasnya.”

”Aku tidak mengerti.”

”Emas yang dijadikan orang-orang sebagai perhiasan, itu adalah telur kuda emas.”

”Hah?”

”Kuda itu tidak beranak, tetapi bertelur. Butuh berjuta-juta tahun untuk membuat telur-telur itu menetas,” ungkap Kakek.

Sungguh tragis ketika tahu, membutuhkan waktu berjuta-juta tahun untuk menelurkan emas sebanyak itu. Dan di tempat kuda emas bertelur telah dibangun perusahaan tambang besar. Kau tahu, sejak kejadian aku melihat kuda itu terbang dari Tanjoleat menuju Pongkor, kuda itu tak pernah terlihat lagi. Kakek bilang, kuda itu telah terbang dari Papua ke Maluku, lalu ke Kalimantan, Sumatera sebelum akhirnya ke Tanjoleat, kampung kami. Aku khawatir kuda itu kini telah terbang menuju negara lain untuk mencari sarang baru tempatnya bertelur. Sebab di tempat kami, perburuan emas selalu panas. Lagipula, pohon-pohon di Tanjoleat sekarang telah habis. Banyak kedapatan hewan-hewan liar masuk kampung kami. Sekawanan monyet jarang lagi terlihat memanjat-manjat batuan cadas di Tanjoleat. Kini seringkali sepi.

”Bagaimanapun, kuda emas juga adalah seekor hewan. Sama seperti makhluk hidup lainnya. Dia ingin melihat anak-anaknya tumbuh besar sebelum waktunya di bumi habis,” ucap Kakek.
Dan soal menjadi penggembala kuda emas, hal itu sudah lama hilang di benakku. Aku kini lebih tertarik menentang pertambangan emas ketimbang memburu emasnya.

Terima Kasih Anda Telah Membaca Artikel
Judul: Kuda Emas
Diposkan Oleh Mohammad Najih
Berikanlah saran dan kritik atas artikel ini. Salam blogger, Terima kasih